Skip to Content

Evolusi dan filosofi blockchain

Evolusi web

A. Web1: The Read-Only Era (1990 - 2004)

  • Konsep: Ini adalah era “Papan Pengumuman Digital”. Internet hanya berisi halaman HTML statis.
  • Peran User: Kita hanya sebagai konsumen. Kita bisa membaca berita di Yahoo atau MSN, tapi tidak bisa berinteraksi, tidak bisa posting, tidak bisa komentar.
  • Analogi: Seperti perpustakaan. Anda datang, baca buku, lalu pulang. Anda tidak bisa menulis di buku itu.

B. Web2: The Read-Write Era (2004 - Sekarang)

  • Konsep: Era “Interaksi & Sosial”. Munculnya Facebook, Twitter, YouTube.
  • Peran User: Kita menjadi kreator. Kita memposting foto, status, dan video. Konten internet dibuat oleh penggunanya.
  • Masalah Utama (Sentralisasi): Walaupun kita yang membuat konten, datanya dimiliki dan disimpan oleh perusahaan besar (Big Tech).
    • Jika server Instagram mati, data kita hilang sejenak.
    • Jika YouTube mem-banned akun kita, “karir” kita tamat.
    • Kita menyewa lahan di rumah orang lain.

C. Web3: The Read-Write-Own Era (Masa Depan)

  • Konsep: Era “Kepemilikan Digital”. Di sinilah Blockchain masuk.
  • Perobahan Paradigma: Web3 mengembalikan kontrol data ke tangan pengguna melalui tokenisasi dan private keys.
  • Integrasi Konsep Desentralisasi:
    • Di Web3, tidak ada satu server pusat “Raksasa” yang menyimpan data.
    • Sistem berjalan secara Peer-to-Peer (P2P). Ribuan komputer kecil (node) saling terhubung membentuk jaringan.
    • Hubungan ke Solidity: Saat nanti kita men-deploy Smart Contract, kode kita tidak duduk di server AWS milik Amazon, tapi terduplikasi di seluruh jaringan dunia ini. Tidak ada yang bisa mematikannya (“Unstoppable Application”).

Distributed ledger

Distributed Ledger

A. Apa itu Distributed Ledger?
Bayangkan sebuah Buku Tabungan:

  • Cara Lama (Centralized Ledger): Hanya Bank yang pegang buku aslinya. Jika Bank salah catat atau servernya di-hack, uang Anda bisa hilang atau berubah nominalnya. Anda harus “percaya” (trust) pada Bank.
  • Cara Blockchain (Distributed Ledger): Bayangkan sebuah desa di mana setiap warga memegang buku catatan yang isinya SAMA PERSIS.
    • Jika A kirim uang ke B, A harus berteriak di alun-alun desa.
    • Semua warga mencatat transaksi itu di buku mereka masing-masing secara bersamaan.

B. Kenapa Harus Terdistribusi? (Implications)

  • Anti-Manipulasi: Jika ada satu orang curang mencoba mengubah catatannya sendiri (misal: saldo dia ditulis 1 Miliar), catatannya akan ditolak karena berbeda dengan catatan milik ribuan warga lainnya.
  • Keamanan: Tidak ada Single Point of Failure. Server Facebook mati, Facebook down. Tapi di Blockchain, 100 node mati pun jaringan tetap jalan karena masih ada ribuan node lain.

C. Transparansi & Trustless System

  • Transparansi: Karena buku besar ini dipegang bersama, siapa saja bisa melihat isinya.
    • Anda bisa melacak pergerakan uang dari dompet A ke dompet B sampai ke akarnya.
    • Penting untuk Developer: Ini berarti logika bisnis (Smart Contract) yang Anda buat nanti bisa dibaca/diaudit oleh semua orang. Tidak ada “kode rahasia” di backend.
  • Trustless (Tanpa Perantara):
    • Istilah “Trustless” bukan berarti “tidak bisa dipercaya”, tapi artinya “kita tidak PERLU percaya pada manusia/institusi”.
    • Kita percaya pada sistem, pada kode, dan pada matematika yang menjamin bahwa catatan di Distributed Ledger itu benar.

Arsitektur dan keamanan

Arsitektur blockchain

Bayangkan Blockchain itu seperti mainan LEGO. Setiap potongan Lego kita sebut “Block”. Dan Lego ini kita susun ke atas memanjang menjadi sebuah menara (Chain).

Nah, di dalam satu kotak Lego (Block) itu, ada 3 komponen utama:

  • Data:
    • Isinya adalah daftar transaksi. Contoh: “Budi kirim 5 ETH ke Siti”, “Andi kirim 2 ETH ke Rina”.
  • Hash (Sidik Jari Blok Ini):
    • Setiap blok punya kode unik yang dihasilkan secara matematika.
    • Analogy: Bayangkan Hash ini seperti Sidik Jari manusia. Jika Anda mengubah sedikit saja data di dalam blok (misal: nominal 5 ETH diubah jadi 50 ETH), maka pola sidik jarinya akan berubah total.
  • Previous Hash (Sidik Jari Blok Sebelumnya):
    • Ini adalah “Lem” yang menyatukan Lego tersebut.
    • Blok nomor 10 akan menyimpan sidik jari Blok nomor 9. Blok nomor 9 menyimpan sidik jari Blok nomor 8, dan seterusnya.

Immutability: Kenapa Data Tidak Bisa Dihapus?

Bayangkan seorang hacker ingin mengubah data transaksi di Blok nomor 50 (dari total 100 blok yang sudah ada).

  • Hacker mengubah data di Blok 50.
  • Akibatnya, Hash (sidik jari) Blok 50 berubah.
  • Blok 51 (yang menyimpan Previous Hash dari Blok 50) akan bingung: “Lho? Kok sidik jari yang saya pegang beda dengan sidik jari Blok 50 yang baru?”
  • Karena tidak cocok, Blok 51 dianggap rusak. Blok 52 ikut rusak, dan seluruh rantai ke atas RUNTUH.

Sistem akan otomatis menolak perubahan itu karena tidak sesuai dengan catatan yang dipegang ribuan komputer lain. Inilah kenapa Blockchain disebut Append-Only (hanya bisa nambah, tak bisa hapus).

Mekanisme Konsensus: Musyawarah Digital

Karena tidak ada Admin Pusat (seperti Bank) yang mengetuk palu untuk menentukan transaksi mana yang sah, jaringan menggunakan Mekanisme Konsensus.
Definisi Konsensus: Cara ribuan komputer (node) mencapai kesepakatan tentang satu kebenaran yang sama.
Ada dua metode paling populer:

  • Proof of Work (PoW) - “Siapa Kuat Dia Dapat”:
    • Seperti Bitcoin. Komputer berlomba-lomba memecahkan teka-teki matematika yang sangat sulit.
    • Siapa yang duluan memecahkan, dia berhak mencatat blok baru dan dapat hadiah. Ini butuh listrik besar.
  • Proof of Stake (PoS) - “Siapa Punya Saham Dia Dapat”:
    • Seperti Ethereum (sekarang). Validator harus mengunci (staking) sejumlah koin sebagai jaminan.
    • Jika validator curang, uang jaminannya hangus. Ini lebih hemat energi.

Blockchain Trilemma: Tantangan Abadi

Dalam membangun jaringan blockchain, ada tiga kualitas idaman. Tapi sayangnya, sangat sulit mendapatkan ketiganya sekaligus. Fenomena ini disebut Blockchain Trilemma.
Bayangkan sebuah segitiga dengan 3 sudut:

  • Decentralization (Desentralisasi): Tidak dikuasai segelintir orang.
  • Security (Keamanan): Tahan terhadap serangan hacker (butuh biaya besar untuk menyerang).
  • Scalability (Skalabilitas): Cepat dan murah (bisa menampung ribuan transaksi per detik).

Hukum Alam Blockchain: Biasanya, kita hanya bisa pilih Dua.

  • Ethereum & Bitcoin (Lapis 1): Memilih Decentralization dan Security.
    • Konsekuensinya: Scalability dikorbankan. Jaringan sering lambat dan biaya gas mahal ketika ramai.
  • Solana/BSC (Beberapa chain lain): Mencoba meningkatkan Scalability.
    • Konsekuensinya: Seringkali Decentralization dikurangi (jumlah node/validator lebih sedikit dibanding Ethereum).

Disinilah peran Layer 2 (seperti Optimism, Arbitrum, Lisk, Base) muncul. Mereka membantu Lapis 1 (Ethereum) menangani masalah Skalabilitas tanpa mengorbankan Keamanan. (Ini akan dibahas di modul selanjutnya).

Identitas & Akses

Kriptografi & Wallet

Bayangkan sebuah brankas bank.

  • Di Bank Biasa: Ada satpam manusia dan teller yang mengecek KTP dan tanda tangan basah Anda. Manusia bisa dibohongi, bisa disuap, atau bisa salah lihat.
  • Di Blockchain: Tidak ada manusia. Yang menjaga aset Anda adalah Kriptografi.

Apa itu Kriptografi? Secara sederhana, ini adalah Sistem Keamanan Berbasis Matematika. Blockchain menggunakan rumus matematika yang sangat rumit untuk memastikan bahwa hanya pemilik asli yang bisa memindahkan uang. Satpam ini (Matematika) bersifat objektif: dia tidak peduli siapa Anda, dia hanya peduli apakah rumus kuncinya cocok atau tidak.

Public Key vs Private Key

Public Key vs Private Key

  • Public Key (Address) = Alamat Email / Nomor Rekening
    • Fungsi: Untuk Menerima.
    • Sifat: Boleh disebar ke siapa saja.
    • Analogi: Sama seperti Anda membagikan alamat email budi@gmail.com atau nomor rekening BCA Anda. Orang lain butuh ini untuk mengirim pesan atau uang ke Anda.
    • Di Blockchain: Ini disebut Wallet Address (contoh: 0x71C…).
  • Private Key = Password Email / Tanda Tangan Digital
    • Fungsi: Untuk Mengirim dan Membuktikan Identitas.
    • Sifat: SANGAT RAHASIA. Jangan pernah diberikan ke siapapun, termasuk pacar atau admin grup Telegram.
    • Analogi: Ini adalah password email Anda. Jika orang tahu password ini, dia bisa masuk, membaca semua email, dan mengirim email palsu atas nama Anda.
    • Digital Signature: Di dunia nyata, Anda tanda tangan pakai pena. Di Blockchain, Anda “menandatangani” transaksi menggunakan Private Key ini. Matematika akan memverifikasi: “Oh benar, transaksi ini ditandatangani oleh pemilik Private Key dari alamat 0x71C…” tanpa Anda perlu membocorkan Private Key-nya.

Self-Custody

Di sinilah perbedaan budaya terbesar antara Web2 dan Web3.

  • Web2 (Custodial): Jika Anda lupa password Facebook, Anda bisa klik tombol “Forgot Password”. Facebook akan membantu meresetnya karena Facebook memegang data Anda.
  • Web3 (Non-Custodial / Self-Custody):
    • Anda adalah bank bagi diri sendiri.
    • Private Key Anda tidak disimpan di server Ethereum, tidak di server Metamask, dan tidak di server siapapun. Itu hanya ada di perangkat Anda.
    • Konsekuensi Mengerikan: Jika Anda menghilangkan Private Key (atau frasa pemulihan/Seed Phrase), ASET ANDA HILANG SELAMANYA.
    • Tidak ada Customer Service Bitcoin. Tidak ada kantor Ethereum yang bisa Anda telepon untuk minta reset password.

Eksekusi & Biaya

Sistem Gas: Kenapa Harus Bayar?

Di Web2 (seperti Instagram/Google), saat kita posting foto, itu “gratis” bagi kita. Kenapa? Karena Google yang menanggung biaya servernya.
Di Web3, User yang membayar sewa servernya. Tapi, kenapa mahal?
Analogi: Sewa Satu Orang vs. Sewa Satu Stadion

  • Web2 (Cloud Server): Saat Anda menjalankan kode, Anda menyuruh satu komputer (server) untuk bekerja.
  • Web3 (Blockchain): Saat Anda menjalankan Smart Contract, Anda memaksa ribuan komputer di seluruh dunia untuk menjalankan kode yang SAMA PERSIS secara serentak untuk memvalidasi hasilnya.
  • Konsekuensi: Ini sangat boros energi. Maka, Anda harus membayar kompensasi kepada ribuan komputer tersebut. Kompensasi ini disebut GAS.

Analogi Gas: Mobil dan Bensin

Untuk memahami cara kerja biaya transaksi, bayangkan Smart Contract adalah sebuah Mobil yang akan melakukan perjalanan.
Ada dua komponen biaya:

  • Gas Limit (Kapasitas Tangki Bensin):
    • Ini adalah “jatah” maksimal langkah kerja yang boleh dilakukan mobil.
    • Contoh: Kode yang rumit (looping panjang) butuh tangki bensin besar. Kode simpel (transfer biasa) butuh tangki kecil.
    • Penting untuk Developer Solidity: Jika kode Anda terlalu rumit dan bensin habis di tengah jalan (Out of Gas), mobil mogok. Transaksi batal, tapi uang bensin tetap hangus!
  • Gas Price (Harga Bensin per Liter):
    • Seberapa mahal harga bensin saat itu? Ini ditentukan oleh hukum pasar (Supply & Demand).
    • Jika jaringan sedang macet (banyak orang mau kirim transaksi), harga bensin naik. Anda harus menawar harga lebih tinggi supaya didahulukan oleh validator.

Rumus Biaya: Total Biaya (ETH) = Bensin yang Dipakai x Harga Bensin saat itu

Lifecycle Transaksi: Perjalanan Data

Lifecycle Transaksi

  • Tahap 1: Signing (Tanda Tangan Cek)
    User membuat transaksi di aplikasi (Wallet). Di sini, user menggunakan Private Key untuk menandatangani transaksi tersebut secara digital.
    • Status: “Ini surat perintah sah dari saya.”
  • Tahap 2: Mempool (Ruang Tunggu)
    Setelah dikirim, transaksi TIDAK langsung berhasil. Dia masuk ke ruang tunggu bernama Mempool (Memory Pool).
    • Analogi: Seperti ruang tunggu stasiun kereta. Ribuan penumpang (transaksi) menunggu di sana.
    • Masalah: Kereta (Blok) punya kapasitas terbatas. Tidak semua bisa angkut.
  • Tahap 3: Validation (Seleksi Penumpang)
    Validator (Sopir Kereta) akan memilih penumpang mana yang mau diangkut.
    • Siapa yang dipilih? Penumpang yang berani bayar tiket (Gas Price) paling mahal.
    • Jika Anda pelit membayar Gas, Anda akan “terlantar” di Mempool lama sekali sampai jaringan sepi.
  • Tahap 4: Inclusion & Execution (Masuk Blok)
    Transaksi Anda terpilih, divalidasi, dan dimasukkan ke dalam Blok terbaru. Di sinilah kode Solidity dijalankan oleh EVM.
  • Tahap 5: State Change (Perubahan Status)
    Setelah blok disebar ke seluruh dunia, barulah status berubah permanen.
    • Sebelum: Saldo A = 10, Saldo B = 0.
    • Sesudah: Saldo A = 5, Saldo B = 5.
    • Sekarang, perubahan ini sudah tertulis di batu (Immutable).

Skalabilitas (The “Future”)

Masalah Utama: Ethereum Itu Seperti Jalan Sudirman di Jam Pulang Kantor

Mari kita jujur. Ethereum (Mainnet/Layer 1) itu korban dari kesuksesannya sendiri.

  • Masalahnya: Karena ribuan orang ingin masuk ke blok yang sama (kapasitas terbatas), terjadi kemacetan.
  • Efeknya:
    • Lambat: Transaksi bisa nyangkut berjam-jam.
    • Mahal: Siapa yang berani bayar Gas Fee paling tinggi, dia yang jalan duluan. Saat pasar sedang ramai, biaya kirim uang Rp50.000 bisa kena ongkos kirim Rp200.000. Tidak masuk akal, kan?

Ini terjadi karena Blockchain Trilemma tadi. Ethereum memilih Aman dan Terdesentralisasi, akibatnya dia Tidak Skalabel (lelet).

Solusi: Layer 2 (Jalan Layang Ekspres)

Jika jalan utama macet, solusinya bukan melebarkan jalan (karena susah dan lama), tapi membangun Jalan Layang di atasnya.
Inilah konsep Layer 2 (L2).
Cara Kerjanya (Analogi Titip Belanja): Bayangkan Anda dan 100 teman ingin membeli tiket bioskop.

  • Cara Layer 1 (Lama): 100 orang antre satu per satu di kasir. Kasir pusing, antrean panjang, butuh waktu 2 jam.
  • Cara Layer 2 (Cepat):
    • Kalian menunjuk 1 orang ketua (L2).
    • Kalian semua bayar ke ketua tersebut (di luar antrean kasir).
    • Sang ketua mengumpulkan (“menggulung”) 100 pesanan itu menjadi SATU pesanan besar.
    • Ketua maju ke kasir dan cuma bayar sekali untuk 100 tiket.
    • Selesai dalam 5 menit.

Secara Teknis: Layer 2 memproses ribuan transaksi di luar rantai utama (agar cepat & murah), lalu hanya melaporkan hasil akhirnya saja ke Ethereum (Layer 1) sebagai bukti keamanan.

Last updated on